Rabu, 25 Juni 2014

AJARAN HINDU DHARMA TENTANG MANUSIA DAN ALAM

1. Penciptaan Manusia

Dari segi arti katanya, manusia berasal dari kata manushya, artinya "Makhluk yang memiliki pikiran." Manusia memiliki kesempurnaan peralatan untuk mengatur dirinya menemui penciptanya, yaitu Tuhan. Manusia menurut ajaran agama Hindu terdiri dari tubuh dan jiwa atau roh. Tubuh merupakan wujud yang kelihatan dan yang bersifat fana. Ada saatnya nanti tubuh ini mengalami kebinasaan. Sedangkan jiwa atau roh itu bersifat kekal. Hal ini dapat dilihat dari petikan kitab Bhagawad Gitta II.16 dan Bhagawad Gitta II. 20 di bawah ini:

"Apa yang tak akan pernah ada; apa yang ada tak akan pernah ada; apa yang ada tak akan pernah berhenti ada; keduanya hanya dapat dimengerti oleh orang yang melihat kebenaran. Yang tak pernah lahir dan mati; juga setelah ada tak akan berhenti ada, tidak dilahirkan, kekal, abadi, selamanya, tidak mati dikala tubuh jasmani mati."

Dalam zaman Brahmana diuraikan bahwa manusia terdiri dari dua bagian, yaitu bagian yang tampak dan tak nampak. Bagian yang tampak disebut rupa, yang tersusun dari lima unsur, yaitu: rambut, kulit, daging, tulang, dan sum-sum. Bagian yang tidak nampak disebut nama, terdiri dari unsur-unsur yang menentukan hidup. yaitu: nafas (prana atau atman), akal (budhi), pemikiran (manas), penglihatan (caksu), dan pendengaran (strotra). Manusia memiliki lima alat pengindraan (Buddhendriya), yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Juga memiliki lima alat bertindak (karmendriya), yaitu: tangan, alat melahirkan (upastha), alat mengeluarkan (payu), kaki, lidah.

Manusia tediri dari lima skandha (skandha artinya tonggak). Kelima skandha tersebut ialah rupa, wedana, sanna, sankhara, dan winnana. Rupa adalah kerangka anatomis atau alat badani kita, yaitu baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Sanna ialah pengamatan dari segala macam, baik yang rohani maupun yang jasmani, yang dengan perantara indra masuk ke dalam kesadaran. Sankhara adalah suatu skandha yang sangat kompleks, yang di dalamnya mengandung kehendak, keinginan dan sebagainya yang menjadikan skandha ini dapat menyusun gambar atau khayalan dari apa yang diamati. Winnana adalah kesadaran. Yang disebut jiwa sebenarnya adalah kelima skandha ini bersama-sama atau satu persatu. 

Dalam diri manusia terdapat atman. Atman tersebut diselubungi oleh beberapa selubung, yaitu dari luar ke dalam: Selubung yang terdiri dari makanan atau tubuh sebagai selubung jasmani (Annamaya atman); Selubung yang di bawah selubung jasmani, yaitu selubung yang di tempati nafas hidup atau prana, yaitu selubung nafas ni (Pranamaya atman); Selubung yang lebih mendalam lagi, yaitu selubung akali (Manomaya atman); lalu terdapat selubung yang terdiri dari kesadaran (Wijnanamaya atman); dan bagian terdalam terdapat atman dalam keadaan bahagia (Anandamaya atman) yaitu inti sari manusia.

2. Penciptaan Alam

Dalam agama Hindu, ajaran mengenai alam semesta tidak begitu jelas. Pengajaran mengenai alam semesta tercakup dalam Kitab Agama atau kitab-kitab tantra. Pokok pengajaran mengenai kitab-kitab ini membicarakan mengenai penciptaan alam semesta, penyembahan dewa-dewa, jalan mencapai kesaktian, dan persekutuan dengan zat yang tertinggi. Dunia ini keluar dari Brahman, melalui persekutuan antara purusa (jiwa atau inti pribadi perseorangan, yang tidak berubah dan tidak aktif) dan prakrti (bukan jiwa yang badani atau asas yang bersifat kebendaan, tetapi yang dalam keadaan yang semula mewujudkan suatu kesatuan yang tanpa pembedaan). Prakrti mengandung didalamnya triguna atau tiga tabiat, yaitu: sattwa (tabiat terang), rajas (tabiat penggerat), dan tamas (tabiat yang gelap, masa bodoh, malas, dsb). Karena hubungan praktri dengan purusa, nisbah (rasio) antara ketiga tabiat tadi berubah-ubah, yang menyebabkan berkembangnya dunia yang beraneka ragam ini. 

Penciptaan hanya suatu ragam saja dari penjelmaan ilahi. Dunia yang mengalir dari Brahman itu terdiri dari mahabrahmanda atau makrosmos dan bratbrahmanda atau mikrosmos. Mengenai penciptaan ini terdapat berbagai pandangan. Dalam kitab Bhagawad Gitta III.10 dijelaskan mengenai hal ini, sekalipun masih samar-samar:

"Dahulu kala Hyang Widhi menciptakan manusia dengan jalan yadhnya dan bersabda dengan ini engkau akan berkembang dan mendapatkan kebahagiaan atau khamaduk sesuai dengan keinginanmu."

(Sumber: Tony Tedjo, Mengenal agama Hindu, Buddha, Khong Hucu, (Pionir Jaya, Bandung: 2011)

3. Hubungan Manusia dan Alam

Hindu dalam hal ini Veda amat kaya akan konsep yang diulas secara sistimatis dan diakui bersama. Salah satunya adalah konsep Rta dan Yajna dimana ini merupakan perlambang adanya hubungan timbal balik antara manusia dengan alam dan berbagai ciptaan yang lain dimana semua memiliki arti penting yang sama dalam menjaga ekosistim, yang ketiganya saling membutuhkan satu sama lain, dan saling memberi dan menerima. Ini berbeda dengan kepercayaan lain yang menempatkan manusia sebagai superior dalam ciptaan atau penikmat dari segala yang diciptakan dimana konsep ini memiliki sisi lemah dimana manusia dapat menjadi arogan dan menempatkan alam dan ciptaan yang lain hanya sebagai sapi perahan, manusia hanya mengambil keuntungan dari alam dan ciptaan yang lain tanpa memperhatikan keberlangsungan dari alam tersebut, ini lah terjadi pada saat ini. Kini alam perlahan sudah tidak ramah lagi pada manusia, bencana demi bencana kini hadir, lalu apakah ini cobaan dari Tuhan? Menurut saya ini adalah dampak dari mulai tidak akrabnya manusia dengan alam, manusia berkembang dengan tidak memperdulikan alam.

Secara lebih rinci konsep-konsep dasar agama Hindu tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup dimulai dari konsep “Rta” dan “ Yadnya”.
Rta Sebagai bagian imanen (tak terpisahkan) dari alam. Manusia pada setiap tahap dalam kehidupannya dikuasai oleh fenomena dan hukum alam.
Yadnya merupakan hakikat hubungan antara manusia dengan alam yang terjadi dalam keadaan harmonis, seimbang antara unsur-unsur yang ada pada alam dan unsureunsur yang dimiliki oleh manusia. Hubungan timbal balik antara manusia dan alam harus selalu dijaga, salah satu cara yang dipakai untuk menjaga hubungan timbal balik ini
Salah satu konsep yajna yang disadari oleh ajaran rta itu adalah:

Konsep Sad Kertih
Alam semesta ini termasuk manusia menurut Veda terdiri dari unsur panca maha butha yang semua saling berkaitaan satu dengan yang lain. Agar terjadi sinergi yang baik maka berbagai kitab Hindu yang dirumuskan oleh lontar-lontar Purana di Bali oleh orang-orang suci Hindu di Bali. Bagian-bagian dari Sad Kertih.

a. Atman Kertih
Yaitu suatu upaya untuk melakukan pelestarian segala usaha untuk menyucikan Sang Hyang Atma dari belenggu Tri Guna.. Disamping itu juga dilakukan usaha untuk melindungi dan memelihara berbagai tempat yang dipakai dalam upacara penyucian Atman. Inti Atma Kertia adalah mengupayakan tetap tegaknya fungsi kawasan suci,tempat suci dan kegiatan suci sebagai media untuk membangun kesucian Atman. Pelestarian alam yang terdapat disekitar kita yang nantinya bermanfaat untuk kemajuan spiritual.

b. Samudra Kertih
Yaitu upaya untuk menjaga kelestarian samudra sebagai sumber alam yang memiliki fungsi yang sangat komplek dalam kehidupan umat manusia. Dilautlah diadakan Upacara Nanggluk Merana.Upacara Melasti, Nganyut Abu Jenazah,Nganyut Sekah,Upacara Mapekelem di laut dan lain-lain. Semua Upacara tersebut bermakna untuk memotivasi umat agar memelihara kelestarian laut.
Dalam kehidupan modern sekarang ini banyak sekali ada usaha perusakan laut seperti pembuangan limbah industri kelaut. Ternyata sudah sejak dari dulu Hindu memperhatikan laut dan menerapkan sebuah ajaran untuk menjaga kelestarian laut agar tetap dapat memberikan kesejahteraan untuk umat manusia.

c. Wana Kertih
Adalah upaya untuk melestarikan hutan. Dalam Pancawati diajarkan tentang tiga fungsi hutan hingga dapat membangun hutan yang lestari yang disebut Wana Astri yang dibagi menjadi maha wana, tapa wana dan sri wana

 Maha wana adalah hutan belantara sebagai sumber kehidupan manusia dan pelindung berbagai sumber hayati didalamnya. Maha wana juga sebagai waduk alami yang akan menyimpan dan mengalirkan air sepanjang tahun. Air dalam ajaran Hindu seperti dinyatakan dalam Bhagawad Gita III. 14 bahwa makanan berasal dari air atau hujan. Munculnya hujan dari yadnya dan yadnya itu adalah karma.Dari ajaran Bhagawad Gita itu dapat kita ambil maknanya marilah kita berkarma nyata untuk memelihara hutan yang kita miliki ini.Karena tanpa hutan yang lestari kita akan mengamali krisis air ini sama dengan krisis kehidupan. Ini mengajarkan kita agar kita mengetahui fungsi penting dari hutan dan berusaha untuk menjaganya.

Tapa wana merupakan fungsi hutan sebagai sarana dalam spiritual yang menggemakan ajaran spiritual dimana di hutan para pertapa mendirikan asram dan memanjat doa serta mengajarkan ajaran-ajaran suci ke dalam setiap hati umat manusia. Disini tersirat ajaran bahwa manusia harus menjaga tingkat kesucian dari hutan hingga orang tidak dengan seenaknya menebang pohon yang terdapat di hutan.
 Sri wana adalah hutan sebagai sarana ekonomi masyarakat karena dari hutanlah sebagian hasil bumi dapat dihasilkan, dengan merusak hutan berarti merusak salah satu penunjang ekonomi masyarakat.  

Ketiga konsep ini sama dengan pola pikir modern dimana orang modern juga memiliki pemikiran bahwa hutan merupakan paru-paru dunia yang menjaga keseimbangan alam dan tempat menyimpan air yang mnjadi sumber air tanah, hutan juga dapat menjadi tempat rekreasi untuk menenangkan diri setelah jenuh menjalani rutinitas yang hanya menghasilkan stress dan ketegangan jiwa dan hutan pula yang menjadi tempat penghasil komoditi yang bisa meningkatkan tarap ekonomi masyarakat. Hindu memiliki memiliki konsep yang luar biasa tentang hutan.

d. Danu Kertih
Ini merupakan sebuah konsep tentang bagaimana menjaga kelestarian sumber air tawar yang ada di daratan baik yang berupa mata air danau, sungai dan lain-lain.  Dalam Manawa Dharmasastra IV.52 dan 56 ada dinyatakan bahwa tidak boleh mengotori sungai Sloka tersebut adalah sbb:

Pratyagnim pratisuryam ca
pratisomodaka dvijan
pratigam prativatam
ca prajna nasyati mehatah.
                                                 (Manawa Dharmasastra .IV.52)
Artinya:
Kecerdasan orang akan sirna bila kencing menghadapi api, mata hari, bulan, kencing dalam air sungai (air yang mengalir),menghadapi Brahmana, sapi, atau arah angin.


Napsu mutram purisam va
sthivanam va samutsrjet,
amedhya liptam any
 a  dva lohitam vavisani va.

                                                                        (Manawa Dharmasastra .IV.56)
Artinya:
Hendaknya ia jangan melempar air kencingnya atau kotorannya ke dalam air sungai,tidak pula air ludahnya, juga tidak boleh melemparkan perkataan yang tidak suci, tidak pula kotoran-kotoran, tidak pula yang lain, tidak pula darah atau suatu yang berbisa.

Dua sloka Manawa Dharmasasta  telah cukup untuk acuan hukum bahwa agama Hindu yang sangat melarang prilaku merusak air apa lagi sumber-sumbernya. Sayang ajaran yang begitu jelas tidak disertai oleh tingginya pemahaman dan pengetahuan umat tentang adanya sloka yang mengatur prilaku manusia terhadap sumber air.

e. Jagat Kertih
Adalah usaha untuk melestarikan bumi dalam hal ini tanah yang menjadi sumber kehidupan hingga tanah menjadi produktif dan menghasilkan suatu yang berguna untuk manusia dari sini terjadi suatu hubungan timbale balik antara bumi dan manusia sehingga manusia tidak lagi hanya menjadi benalu seperti yang dominan terjadi pada saat ini. Saat ini bumi benar telah dirusak oleh manusia, banyak masalah yang terjadi dari ulah manusia itu sendiri. Konsep Cakra Yajna sangat diperlukan dalam kondisi yang seperti ini karena dengan adanya konsep ini akan terjadi  suatu suasana yang dapat menumbuhkan suasana harmanonis dimana semua manusia, ciptaan dan alam.

f. Jana Kertih
Jana kertih lebih pada individu dalam membangun sebuah lingkungan spiritual hingga tercipta suasana religius di sekitar individu tersebut ini sangat berguna dalam membina hubungan sosial hingga tercipta suatu hubungan yang harmonis antar individu, hubungan ini tidak lagi memandaang perbedaan sebagai hambatan suatu kedekatan, karena pada dasarnya semua manusia itu bersaudara

(Sumber: https://www.facebook.com/notes/hindu-bali/ajaran-rta-dan-yajna-dalam-hindu-dapat-menjadi-solusi-dalam-masalah-lingkungan-h/10151123281682596)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar