Kamis, 26 Juni 2014

AJARAN BUDDHA DHARMA TENTANG ETIKA (SILA)

1. Pengertian Sila

Kata etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang artinya “sifat” atau “adat kebiasaan”. Menurut KBBI etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk tentang hak dan kewajiban moral.
Pelaksanaan sila dalam agama Buddha adalah merupakan suatu kebijakan moral, etika atau tata tertib dalam menjalani kehidupan kita sebagai manusia sehingga mampu bertingkah laku secara baik dan benar bagi diri sendiri, orang lain, bahkan seluruh alam semesta beserta isinya.[1]

Sila dalam buku-buku agama Buddha sering diterjemahkan sebagai “moral, kebajikan, atau perbuatan baik”. Ajaran Buddha tentang sila adalah etika Buddhis, petunjuk dan latihan moral yang membentuk perilaku baik. Menurut kosa kata bahasa Pali, “sila” dalam pengertian luas padanannya adalah “etika” dan dalam pengertian sempit padananya adalah “moral”.[2]

Sehingga umat Buddha dianjurkan untuk melaksanakan semua sila. Buddhaghosa dalam kitab Visuddhimagga menafsirkan sila sebagai berikut: pertama, sila menunjukkan sikap batin atau kehendak (cetana). Kedua, menunjukikan penghindaran (virata) yang merupakan unsur batin (cetasika). Ketiga, menunjukan pengendalian diri (samvara) dan keempat menunjukkan tiada pelanggaran peraturan yang telah ditetapkan (avitikhama).[3]

Sila terdiri dari lima aturan pokok yaitu:
1. Dengan mengetahui betapa dalamnya hidup kita saling terkait, saya berusaha berlatih melindungi kehidupan.
2.   Dengan mengetahui betapa dalamnya hidup kita saling terkait, saya berusaha berlatih hanya mengambil apa yang diberikan pada saya tanpa pamrih.
3.   Dengan mengetahui betapa dalamnya hidup kita saling terkait, saya berusaha berlatih menjaga hubungan dan menghindari perilaku seksual yang keliru.
4.   Dengan mengetahui betapa dalamnya hidup kita saling terkait, saya berusaha berlatih berbicara baik dan jujur.
5.  Dengan mengetahui betapa dalamnya hidup kita saling terkait, saya berusaha berlatih melindungi kejernihan pikiran dengan menghindari hal-hal yang membuat kecanduan.[4]

Selain itu dalam Buddhisme Mahayana juga menjabarkan lebih lanjut dalam Sad Paramita yaitu Sila Paramita
dengan hal-hal yang pantang dilakukan sebagai 10 (sepuluh) perbuatan buruk sebagai mana tercatat dalam
Dasabhumika Sutra, Satasaharrika Prajnaparamita dan Maha Vyutpatti yaitu:a
1.    Pantangan Membunuh
Pantangan membunuh ini dapat dijabarkan dengan tidak membunuh ataupun menyiksa tubuh atau badan yang mengandung kehidupan, yang besar atau yang kecil, yang berdosa atau tidak berdosa, selama makhluk itu masih hidup. Sila ini mengajarkan agar kita selalu memiliki sifat cinta kasih dan kasih saying terhadap semua makhluk hidup.

2.    Pantangan Mencuri
Pantangan mencuri dapat diartikan bahwa kita tidak boleh mengambil atau memiliki sesuatu apakah berharga ataupun tidak berharga apabila tidak diijinkan oleh pemiliknya. Pelaksanaan ini akan mengkibarkan kita selalu merasa puas terhadap apa yang telah kita miliki.

3.    Pantangan Melakukan Perbuatan Perzinahan
Pantangan melakukan perbuatan perzinahan dapat diartikan tidak melakukan persetubuhan dengan pasangan yang bukan merupakan suami atau istri sendiri. Sila ini mengajarkan agar kita tidak terjerumus dalam hahwa nafsu birahi yang rendah.

4.    Perbuatan Yang Pantang Untuk dilakukan Oleh Ucapan
Yaitu suatu pantangan perbuatan yang dilakukan melalui ucapan. Tetrdapat 4 (empat) perbuatan yang pantang dilakukan yaitu pantang berdusta, pantang menyebarkan isu yang tidak benar, pantang mengucapkan kata-kata kotor dan pantang melakukan pembicaraan yang sia-sia.

5.    Pantang Berdusta
Pantang berdusta berarti kita harus berbicara secara jujur, dimana dengan kekuatan kejujuran tersebut akan dapat dimanfaatkan untuk menghadapi segala rintangan. Sila ini mengajarkan agar kita senantiasa berterus terang dan bersifat konsekuen terhadap segala sesuatu yang telah diucapkan.

6.    Pantang Menyebarkan Isu Yang Tidak Benar
Hal  ini berarti kita tidak boleh menyebarkan berita-berita yang tidak benar (palsu) dengan tujuan merugikan orang lain, menimbulkan pertentangan dan perpecahan kelompok/masyarakat.

7.    Pantangan Mengucapkan Kata-kata Kotor
Pantangan ini dapat diartikan agar kita tidak mencaci maki dengan kata-kata kasar, kotor, tajam, penuh penghinaan ataupun yang dapat menyinggung perasaan seseorang. Sila ini mengajarkan agar kita dapat bersifat sopan santun, sabar, dan penuh kewibawaan serta kebijaksanaan.

8.    Pantangan Melakukan Pembicaraan Sia-sia
Artinya segala pembicaraan yang kita lakukan haruslah dipikirkan terlebih dahulu dan tidak melakukan suatu pembicaraan yang tidak berguna.

9.    Pantangan Memikirkan Nafsu Serakah
Pantangan ini dapat diartikan bahwa kita janganlah memikirkan sesuatu untuk memenuhi keinginan dalam memiliki sesuatu yang tidak baik atau sesuatu yang bukan milik atau hak kita.

10.  Pantangan Berniat Jahat
Pantangan berniat jahat dapat diartikan bahwa kita janganlah  mempunyai pikiran untuk berbuat jahat sehingga tidak terperangkap dalam niat jahat tersebut yang dapat mendorong kita untuk melakukan perbuatan jahat tanpa kita sadari.

11.   Pantangan Berpandangan Sesat\
      Hal ini dapat diartikan bahwa kita janganlah berpandangan yang keliru terhadap segala sesuatu.[5]
      Jadi jelaslah bila kita menjalankan sila dengan baik maka kita akan mendapat kebahagiaan, dan apabila    jika berbuat jahat maka akan menderita. Adapun manfaat/faedah dari sila, Sang Buddha bersabda dalam  kitab suci MAHA PARI NIBHANA SUTTA sebagai berikut:
a)    Sila menyebabkan seseorang banyak harta.
b)   Nama dan kemsyhuran akan tersebar luas.
c)    Menjadikan seseorang tenang (tanpa ketakutan, tanpa keraguan, dan tidak takut di cela orang dimanapun dia  berada).
d)   Menjadikan seseorang tenang di saat menghadapi ajalnya sekalipun.
e)    Akan terlahir di alam bahagia.
f)    Menjadi orang yang dicintai oleh makhluk-makhluk lain.[6]

Perlunya etika timbul dari kenyataan bahwa manusia tidak sempurna; ia harus melatih dirinya untuk menjadi
baik. Jadi moralitas menjadi aspek paling penting dalam kehidupanj. Etika umat Buddha bukanlah patokan
asal-asaloan yang ditemukan orang untuk tujuan manfaatnya sendiri.[7]

Etika umat Buddha tidak berlandaskan pada adat social yang berubah tetapi pada hukum alam yang tidak
berubah. Nilai-nilai etika umat Buddha pada hakikatnya adalah bagian dari alam dan hukum tetap sebab
akibat moral (kamma).[8]

Sila pertama kali diajarkan oleh Sang Buddha kepada lima petapa yang bernama Assajji, Vappa, Bhadiya,
kondanna, dan Mahanama sewaktu menjabarkan Empat Kesunyataan Mulia (Cattaro Ariyasaccani) yang
kemudian disebut Dhammacakkapavattana Sutta.[9]

 2. Catur Mara

Mara ialah sifat-sifat setan yang ada pada diri manusia. sifat-sifat itu ialah sifat yang mengundang kejahatan dan
kegelisahan hati seperti, marah, dendam, curiga, dan lain-lain. Sedangkan catur mara artinya empat sifat
setan/jahat.

a.    Dosa: ialah kebencian yang menjadi akar dari perbuatan jahat (akusala-kamma) dan akan lenyap bila dikembangkannya metta. Dosa ini secara etika (ajaran tentang keluhuran budi dan peraturan kesopanan) berarti kebencian. Tetapi secara psikologi (kejiwaan) berarti pukulan yang berat dari pikiran terhadap objek yang bertentangan. Mengenai ini terdapat dua macam nama yaitu:
1.    Patigha= Jijik atau tidak senang.
2.    Vyapada= Kemauan Jahat.

b.    Lobha: Ialah serakah yang menjadi akar dari perbuatan jahat (akusalakamma) dan akan lenyap bila dikembangkannya karuna. Lobha ini secara etika berarti keserakahan/ketamakan.

c.    Issa: Ialah iri hati yaitu perasaan tidak senang melihat makhluk lain berbahagia yang menjadi akar dari perbuatan jahat dan akan lenyap bila dikembangkannya mudita.

d.    Moha: Ialah kegelisahan batin sebagai akibat dari perbuatan dosa, lobha dan Issa, akan lenyap bila dikembangkanya upekkha. Moha berarti kebodohan dan kurangnya pengertian. Selain daripada itu Moha juga disebut Avijja= Katidak-tahuan. Atau Annaha= tidaak berpengetahuan, atau Adassana= Tidak Melihat.[10]

3. Catur Paramitha

Catur Paramitha ialah sifat-sifat ketuhanan yang ada pada diri manusia. Sedangkan Catur Paramitha ialah empat
sifat ketuhanan:
a.    Metta: Ialah cinta kasih universal yang menjadi akar dari perbuatan baik (Kusala-Kamma). Bila ini berkembang dosa akan tertekan.

b.    Karuna: Ialah kasih saying universal karena melihat suatu kesengsaraan yang menjadi akar dari perbuatan baik. Bila ini berkembang lobha akan tertekan.

c.    Mudhita: Ialah perasaan bahagia universal karena melihat makhluk lain bergembira yang menjadi akar dari perbuatan baik. Bila ini berkembang issa akan tertekan.

d.    Upekha: Ialah keseimbangan batin universal sebagai hasil dari melaksanakan metta, karuna, mudhita dan upekha juga merupakan akar dari perbuatan baik. Bila ini telah berkembang moha akan tertekan. Bahkan akan lenyap.[11]






[1] Pengetahuan Dharma Untuk Mahasiswa. (CV. Dewi Kayana Abadi. Jakarta: 2003). Hal: 91
[2] Mukti, Wijaya, Krishnanda. Wacana Buddha-Dharma.(Yayasan Dharma pembangunan. Jakarta: 2003). Hal: 176
[3] Ibid hal: 180
[4] Wisnton, Diana. Wide Awake Sadar Sepenuhnya. (Yayasan Penerbit Karaniya Dharma Universal Bagi Semua). Hal: 236
[5] Op.Cit. (CV. Dewi Kayana Abadi. Jakarta: 2003). Hal: 95-98
[6] Ibid hal: 100-101
[7] Dhammananda, Sri. Keyakinan Umat Buddha. (Yayasan penerbit Karaniya.  Tahun: 2005). Hal: 210-211
[8] Ibid hal: 211
[9] Rashid, S. M., Teja. Sila Dan Vinaya. (Budhis BODHI. Jakarta: 1997). Hal: 8
[10] M.S. Sumantri. et. al. Kebahagiaan Dalam Dhamma. (Majelis Buddhayana Indonesi. Jakarta: 1980). Hal: 21
[11] Ibid hal: 20-21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar