Kamis, 26 Juni 2014

AJARAN BUDDHA TENTANG BHAVANA



1.    Pengertian Bhavana

Bhavana berarti pengembangan, yaitu pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaiannya hampir sama dengan bhavana adalah samadhi. Samadhi berarti pemusatan pikiran pada suatu obyek.
Samadhi yang benar (samma samadhi) adalah pemusatan pikiran pada obyek yang dapat menghilangkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang baik, sedangkan samadhi yang salah (miccha samadhi) adalah pemusatan pikiran pada obyek yang dapat menimbulkan kekotoran batin tatkala pikiran bersatu dengan bentuk-bentuk karma yang tidak baik. Jika dipergunakan istilah samadhi, maka yang dimaksud adalah “Samadhi yang benar”.[1].

2.    Macam-macam Bhavana
Bhavana dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1.    Samatha Bhavana, berarti pengembangan ketenangan batin.
2.    Vipassana Bhavana, berarti pengembangan pandangan terang.

Diantara kedua jenis bhavana ini terdapat perbedaan. Perbedaan itu mencakup:
1.    Tujuannya Samatha Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai ketenangan. Dalam Samatha Bhavana, batin terutama pikiran terpusat dan tertuju pada suatu obyek. Jadi pikiran tidak berhamburan ke segala penjuru, pikiran tidak berkeliaran kesana kemari, pikiran tidak melamun dan mengembara tanpa tujuan.Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, rintangan-rintangan batin tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Jadi kekotoran batin hanya dapat diendapkan, seperti batu besar yang menekan rumput hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samatha Bhavana hanya dapat mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut jhana-jhana, dan mencapai berbagai kekuatan batin.

Sesungguhnya pikiran yang tenang bukanlah tujuan terakhir dari meditasi. Ketenangan pikiran hanyalah salah satu keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandangan terang atau Vipassana Bhavana.

Vipassana Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai pandangan terang. Dengan melaksanakan Vipassana Bhavana, kekotoran-kekotoran batin dapat disadari dan kemudian dibasmi sampai keakar-akarnya, sehingga orang yang melakukan Vipassana Bhavana dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya, bahwa hidup ini dicengkeram oleh anicca (ketidak-kekalan), dukkha (derita), dan anatta (tanpa aku yang kekal). Dengan demikian, Vipassana Bhavana dapat menuju ke arah pembersihan batin, pembebasan sempurna, pencapaian Nibbana.
Sesungguhnya “dalam kitab suci telah ditulis bahwa hanya dengan pandangan terang inilah kita dapat menyucikan diri kita, dan tidak dengan jalan lain”.

2.    Obyeknya Obyek yang dipakai dalam Samatha Bhavana ada 40 macam. Obyek-obyek itu adalah sepuluh kasina, sepuluh asubha, sepuluh anussati, empat appamañña, satu aharapatikulasañña, satu catudhatuvavatthana, dan empat arupa. Sebaliknya, obyek yang dipakai dalam Vipassana Bhavana adalah nama dan rupa (batin dan materi), atau empat satipatthana.
3.    Penghalangnya Dalam melaksanakan Samatha Bhavana, pada umumnya orang yang bermeditasi sering mendapat gangguan atau halangan atau rintangan, yaitu lima nivarana dan sepuluh palibodha. Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana, terdapat pula rintangan-rintangan yang dapat menghambat perkembangan pandangan terang, yang disebut sepuluh vipassanupakilesa.[2]

Didalam sutta Bhikkhunupasaya, Sang Buddha mengatakan, saat berlatih meditasi vipassanasementara pikiran sedang kacau seperti; pikiran dibanjiri oleh kilesa (kekotoran batin), batin bergolak oleh kilesa tersebut serta muncul keenganan untuk melanjutkan latihan, maka pada saat demikian anda perlu mengganti obyek (meditasi) dengan obyek-obyek yang “menyenangkan”. Objek-objek yang menyenangkan itu seperti merenungkan sifat-sifat luhur dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Sang Buddha, Dhamma atau Sangha. Bisa pula dengan merenungkan dana-dana yang sudah anda lakukan atau penegakkan sila dalam kehidupan sehari-hari.

Awalnya anda perlu menggunakan obyek-obyek yang “menyenangkan” ini sebagai obyek meditasi dan melakukan perenungan atas obyek-obyek tersebut. Lalu secara bertahap pikiran dapat dikonsentrasikan pada obyek. Hal ini menimbulkan kegembiraan, ketenangan dan kedamaian. Pada saat pikiran telah terkonsentrasi dengan baik anda dapat kembali ke meditasi Vipassana. Praktek ini disebut Panidhaya Bhavana. Artinya anda menyadari pikiran yang dikonsentrasikan ke obyek-obyek yang menyenangkan untuk kemudian kembali ke meditasi vipassana.

Salah satu obyek yang dapat digunakan oleh pemeditasi saat pikirannya dibanjiri kekuatiran, kesedihan, kekacauan, dan keengganan, adalah metta (cinta kasih).

Menggunakan obyek perenungan sifat-sifat luhur dan kebijaksanaan Sang Buddha merupakan hal yang sangat baik. Namun untuk hal ini harus didukung oleh pengetahuan akan kemuliaan dan kebijaksanaan yang Sang Buddha miliki. Sehingga anda dapat merenungkan dengan baik. Bila tidak, tentunya anda tidak dapat menggunakan obyek perenungan sifat-sifat luhur dan kebijaksanaan Sang Buddha sebagai obyek.

Lain halnya dengan metta. Untuk menggunakan obyek metta tidak diperlukan pengetahuan khusus tentangnya. Karena metta (cinta kasih) merupakan sifat bawaan yang dibawa sejak lahir oleh makhluk hidup pada umumnya. Maka obyek ini dapat dikembangkan dengan mudah bila anda mengetahui caranya.

Perbedaan Metta dan Tanha

Di Burma, orang-orang menggunakan kata metta yang merujuk kepada tanha, kemelekatan. Saat seorang pria jatuh cinta pada seorang gadis, dikatakan pria itu mencintai sang gadis. Pria ini memilikimetta terhadap si gadis. Ini bukanlah metta. Tapi keterikatan.

Maka dari itu saat mendiskusikan metta bhavana, anda perlu mengenal secara jelas arti dari mettatersebut. Juga mengetahui perbedaan serta karakteristik yang dimiliki oleh tanha.
Tanha memiliki sifat kemelekatan dan bersifat “panas”. Sedang metta sebaliknya. Metta sama sekali tidak memiliki kemelekatan dan mengharapkan kebahagiaan makhluk hidup lain serta membuat pikiran menjadi tenang dan damai.

Di belahan dunia barat, hal itu bukanlah masalah. Sebab mereka tidak menggunakan kata mettayang merujuk kepada tanha. Ini merupakan sesuatu yang mudah untuk dijelaskan.
Tahun 1979 saat membimbing praktek meditasi untuk Kelompok Meditasi Vipassana (Insight Meditation Society) bersama Yang Mulia Mahasi Sayadaw, dalam sesi tanya-jawab, seorang pemeditasi wanita yang berumur sekitar 30 tahun mengajukan pertanyaan, “apa itu cinta?”

Bagaimana saya harus menjawab pertanyaan ini? Saya tidak dapat berbuat apa-apa. Tentu akan mudah untuk mengatakan, “Ya, cinta itu adalah Tuhan”.
Tetapi jika saya menjawab demikian berarti saya adalah seorang Kristen. Akhirnya saya menjawab demikian, “Ya, kamu bertanya kepada saya mengenai apa itu cinta. Saya tidak tahu apa itu cinta. Yang saya dapat jelaskan adalah cinta kasih”. Tetapi wanita ini hanya ingin mengetahui makna cinta, bukan cinta kasih.

Istilah metta disini merujuk kepada suatu pengharapan agar semua makhluk hidup dipenuhi oleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Hita kara puti lakkhana metta. Saat kita mengembangkan perasaan atau semangat cinta kasih (metta) kepada semua makhluk hidup, ini disebut metta bhavana. Pemikiran bahwa metta dapat dikirimkan ke semua makhluk hidup berkembang di Burma, Sri lanka, India dan juga di negara-negara Barat. Sebagian kaum terpelajar menggunakan istilah “mengirim”.

“Anda harus mengirimkan cinta kasih anda pada semua makhluk hidup.” Inilah metta bhavanamenurut mereka. Sebagian lagi memakai istilah “memancarkan”. “Anda harus memancarkan cinta kasih pada semua makhluk hidup.”
Jika anda tidak mengembangkan cinta kasih sepenuhnya dalam diri sendiri, bagaimana anda dapat mengirimkannya ke pada makhluk hidup lain? Bagaimana anda memancarkannya ke makhluk hidup lain? Bila perasaan atau semangat cinta kasih dalam diri anda sangat berlimpah, anda tidak perlu mengirimkannya ke makhluk hidup lain. Sebab pikiran yang penuh cinta kasih itu akan bekerja dengan sendirinya.

Katakanlah saat anda mengharapkan kesejahteraan makhluk hidup lain dan kemudian anda memilikimetta. Jika metta telah berkembang dalam diri anda, wajah anda akan tampak menyenangkan, menunjukkan suasana hati yang gembira, ramah dan agung.

Dengan kekuatan metta, cinta kasih dalam diri anda, maka setiap orang yang anda temui akan merasakan hal itu. Dia akan gembira berjumpa dengan anda. Wajah anda menampakkan kedamaian dan ketenangan. Anda tidak perlu mengirimkan cinta kasih itu pada orang tersebut. Pikiran akan mengirimkannya secara otomatis. Inilah kekuatan cinta kasih kepada makhluk hidup.

Di Burma, orang sering mengatakan, “Kirimkanlah metta kepada si anu.” Kadang orang awam yang sedang mengalami kesulitan berkata demikian, “Bhante, tolong kirimkan metta anda kepada saya yang sedang dalam kesulitan ini.” Inilah ide mengirim metta kepada orang lain. Karenanya jika kami mengatakan, “Anda harus berlatih meditasi metta bhavana”, maka mereka beranggapan bahwa anda harus mengirim metta kepada orang lain.

Kesalahpahaman tentang Metta Bhavana

Sebenarnya mengembangkan cinta kasih bukanlah kepada orang lain, melainkan kepada diri anda sendiri. Semangat cinta kasih dapat dikembangkan melalui pengharapan kebahagiaan pada makhluk hidup, orang lain. Tanpa merenungkan kebahagiaan makhluk hidup lain, anda tidak dapat mengembangkan cinta kasih dalam diri anda. Jadi, cinta kasih ini hanya dapat dikembangkan melalui perenungan atas kebahagiaan makhluk hidup lain.

Hal ini menimbulkan kesalahpahaman bagi sebagian orang. Mereka mengira ini berarti kita mengirimkan metta kepada orang lain. Tetapi pada kenyataannya metta ditumbuhkan dalam diri melalui perenungan akan kebahagiaan makhluk hidup lain. Inilah mengapa disebut metta bhavana.Bhavana berarti mengembangkan. Dan metta memiliki makna cinta kasih.

Dengan demikian untuk mengembangkan metta pada diri sendiri, anda harus mengambil seseorang, sekelompok atau seluruh makhluk hidup sebagai obyek meditasi (metta), dan mengucapkan kata-kata berikut berulang-ulang dalam pikiran “Semoga semua makhluk berbahagia, penuh kedamaian, bebas dari kebencian, kesukaran dan penderitaan…” dan seterusnya. Dengan hal ini anda merasakan cinta kasih anda kepada orang atau mahkluk hidup lain.

Jadi, dengan mempraktekkan meditasi metta, mengembangkan cinta kasih dalam batin, kita merasa bahagia, damai dan tenang. Pikiran terkonsentrasi, kokoh dan lunak. Inilah hasil atau keuntungan yang diperoleh dari mengembangkan metta kepada diri sendiri. Setelah itu anda dapat berpindah ke meditasi vipassana.
Anda dapat berkonsentrasi pada obyek-obyek didalam meditasi vipassana dengan mudah sebab telah memiliki konsentrasi yang kokoh sebagai hasil dari latihan meditasi metta. Konsentrasi tersebut dapat “disalurkan” ke meditasi vipassana.

Saya ingat pada sekelompok orang dari Switzerland yang mengunakan kata “disalurkan”. Itu berlangsung pada tahun 1983. Pada saat itu Lebanon dalam masalah besar, perang saudara.
Orang-orang tersebut meminta saya untuk menerangkan metta bhavana. Lalu saya bertanya pada mereka, “Sudahkan anda berlatih (meditasi) metta bhavana?”
Mereka menjawab, “Kami ‘menyalurkan’ cinta kasih kepada orang-orang di Lebanon.” Menyalurkan cinta kasih. Apa yang dimaksud dengan “menyalurkan” ? Dari yang saya ketahui, kata saluran berhubungan dengan irigasi (pengairan).

Ketika mengembangkan cinta kasih pada diri anda, didapati dua jenis cinta kasih. Yakni cinta kasih yang bersifat khusus dan umum. Pada metta yang khusus, obyek dipilih. Kemudian anda mengharapkan kebahagiaan pada orang yang dipilih secara khusus ini. Lalu pikiran cinta kasih ditujukan kepadanya. Bukan kepada orang lain. Misalnya saya memilih U Samiddhi sebagai obyek meditasi. Maka saya mengucapkan (dalam batin) dan merenungkan kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan beliau. “Semoga U Samiddhi berbahagia, bebas dari kebencian, kesukaran dan penderitaan. Semoga beliau mendapatkan kemajuan dan pencerahan dalam dhamma.” Dan lain sebagainya.”
Saya hanya merenungkan kebahagiaan beliau bukan orang lain. Inilah yang dimaksud dengan pengembangan khusus dalam metta, cinta kasih.

Sementara pengembangan cinta kasih umum adalah perenungan terhadap kesejahteraan semua makhluk hidup, baik itu binatang, dewa, brahma, peta, setan kelaparan, dan lain sebagainya. Anda merenungkan kesejahteraan mereka dan berkata (dalam batin), ”Semoga semua makhluk hidup berbahagia dan diliputi oleh kedamaian. Semoga mereka semua terbebas dari kebencian, kesukaran, dan berbagai penderitaan. Semoga mereka semua mendapat kemajuan.” Dan lain sebagainya. Mettaseperti ini tidaklah bersifat khusus. Inilah pengembangan cinta kasih umum yang dalam bahasa Palidikenal dengan Anodhisa Metta. Sementara metta yang bersifat khusus disebut Odhisa Metta.

Obyek-obyek Metta Bhavana

Obyek yang digunakan dalam pengembangan metta yang bersifat umum adalah semua makhluk hidup. Cara ini akan menimbulkan kesulitan bagi anda untuk memusatkan pikiran secara penuh kepada obyek tersebut.
Maka, bila anda ingin mengembangkan cinta kasih, perenungan terhadap kesejahteraan semua makhluk hidup merupakan obyek yang sangat baik. Namun pikiran akan sulit terkonsentrasi. Anda dapat merasakan cinta kasih, kebahagiaan dan kedamaian berkembang dalam diri anda. Tetapi pikiran tidak dapat berkonsentrasi dengan baik dikarenakan obyek yang digunakan sangat banyak.

Jadi, bila anda ingin dapat berkonsentrasi dengan baik saat berlatih meditasi metta, obyek yang digunakan harus yang bersifat khusus. Seperti misalnya memakai obyek seseorang yang anda kenal dan hanya merenungkan kesejahteraannya. Yang perlu diperhatikan saat menggunakan obyek manusia atau sekelompok manusia (seperti ditulis dalam Visuddhimagga) bahwa anda tidak seharusnya secara langsung menujukan cinta kasih kepada seseorang yang anda cintai di awal latihan. Bila hal ini dilakukan, dimana anda belum memiliki ketrampilan dalam mengembangkan cinta kasih, akan timbul kesulitan untuk berkonsentrasi.
Kadang anda teringat akan ketidakberuntungannya, penderitaan yang terjadi baik secara batin maupun jasmani. Akibatnya anda akan merasa tidak bahagia.

Dalam Visuddhimagga disebutkan, anda bahkan akan menangis karena penderitaan yang dialami oleh orang yang anda cintai. Oleh sebab itu sebaiknya tidak menggunakan seseorang yang anda cintai untuk dijadikan sebagai obyek dalam pengembangan metta.

Ada obyek lainnya lagi, yaitu obyek yang netral. Ada contoh menarik di sini untuk menjelaskan objek netral itu seperti apa. Anda tidak mencintai atau membencinya. Tapi ia merupakan kenalan anda. Saat dalam perjalanan ke tempat kerja anda bertemu dan menyapanya. Lalu anda berpikir,”Saya akan bekerja. Demikian pula dengan orang ini.” Lambat laun ia menjadi kenalan anda. Kalian berdua saling tahu. Itu saja. Tidak lebih dari itu. Kalian berdua tidak saling berkunjung ke rumah masing-masing. Pertemuan hanya terjadi jika anda dalam perjalanan ke tempat kerja. Inilah yang dimaksud dengan orang yang netral.

Ada sebuah cerita lain tentang seorang Burma kaya yang tinggal di Inggris. Namanya U Mya Saw. Ia membeli rumah yang sangat besar dengan luas tanah sekitar 30 are. Kantornya ada di London tapi ia tinggal di Oxford. Setiap hari ia pergi ke kantor dengan kereta api. Ia selalu duduk pada gerbong dan tempat duduk yang sama. Setiap hari mereka (para penumpang) bertemu dengan orang-orang yang sama. Ini berlangsung selama 10 tahun. Tapi tidak terjadi pertemanan di antara mereka.

Tahun 1981 saya membimbing latihan meditasi di bagian utara Inggris, di Institut Manjusri, dekat Ebersten, sebuah kota kecil. Ada tiga atau empat wanita tua datang ke tempat latihan tersebut, mendengarkan diskusi dhamma dan bercakap-cakap dengan saya hampir setiap hari.

Suatu hari, salah seorang dari mereka bercerita mengenai tempat tinggalnya di London. Ia tinggal di sana selama 20 tahun, tapi tidak mengenal para tetangganya. Demikian pula para tetangga itu tidak mengenalnya. Lalu ia pindah ke Ebersten. Dalam kurun waktu 5 tahun ia hampir mengenal semua orang di kota itu. Katanya, ”Kehidupan di kota kecil sungguh menyenangkan sementara di kota besar amat tragis.”

Para kenalan ini bukanlah satu-satunya obyek dalam latihan pengembangan cinta kasih. DalamVisuddhimagga dikatakan, jika anda menempatkan orang netral ini sebagai seseorang yang anda cintai, akan sulit bagi anda untuk mengembangkan cinta kasih. Jadi, anda tidak seharusnya menggunakan obyek seseorang yang netral dalam permulaan latihan meditasi pengembangan cinta kasih tersebut.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, dimana anda sudah cukup memiliki ketrampilan dalam latihan metta ini, anda bisa menggunakan obyek orang yang netral. Pada saat ini Anda dapat melakukannya dengan mudah.

Selain itu yang perlu diingat adalah obyek orang yang bermusuhan dengan anda sebaiknya tidak digunakan pula pada masa awal latihan. Sebab, saat anda merenungkan kesejahteraannya, anda akan mengalami kesulitan dan yang timbul adalah ingatan bagaimana ia telah menyakiti dan menghina anda. Akibatnya, bukan metta yang dapat dikembangkan, tapi kemarahan dan kebencian yang muncul. Melihat hal ini sebaiknya orang yang bermusuhan dengan anda tidak dijadikan obyek dalam pengembangan Metta pada masa awal berlatih.

Dalam Visuddhimagga juga dijelaskan untuk tidak menggunakan obyek lawan jenis. Dalam hal ini ada cerita tentang seorang pria yang mengembangkan cinta kasih kepada istrinya. Ia sangat ingin mempraktekkan meditasi metta. Untuk itu ia meminta seorang bhikkhu yang berpindapatta ke rumahnya agar mengajarkan meditasi metta tersebut. “Bhante, saya ingin mempraktekkan meditasi cinta kasih. Saya ingin mengembangkan cinta kasih kepada orang-orang yang saya cintai.” Bhikkhu tesebut menjawab demikian “Dayaka, orang-orang yang sangat kamu cintai dapat dijadikan obyek meditasi.”

Malam harinya, ia menyiapkan diri untuk berlatih meditasi metta. Ia membersihkan dirinya dan memakai baju baru. Bersujud pada patung Sang Buddha dan merenungkan sifat-sifat luhur dan kebijaksanaan beliau. Lalu ia duduk di ruangannya. Ia duduk dengan rilek dan mencari obyek meditasi. Ia berpikir, “Siapakah orang yang paling saya cintai?” Kemudian ia teringat akan istri yang sangat dicintainya dan berkesimpulan bahwa istrinya dapat dijadikan obyek meditasi. Mulailah ia merenungkan kesejahteraan dan kebahagiaan istrinya.

Awalnya ia dapat membangkitkan cinta kasih dalam dirinya. Selanjutnya cinta kasih itu menjadi semakin lemah dan melemah, berubah menjadi hal lainnya. Saat itu ia tidak dapat bertahan lagi dan bangkit berdiri. Pintu ruangan tersebut terkunci. Tapi ia lupa telah berbuat itu (mengunci pintu). Yang dilakukan selanjutnya adalah memukuli tembok. Cerita tersebut berhenti sampai disini.Visuddhimagga tidak menjelaskan kejadian selanjutnya. Berdasar hal ini obyek lawan jenis sebaiknya tidak dipakai untuk mengembangkan metta.

Tetapi apa yang saya alami berbeda dengan cerita di atas. Beberapa murid saya dapat mempraktekkan meditasi cinta kasih dengan baik meski menggunakan obyek yang berlainan jenis kelaminnya dengan mereka. Mereka berhasil mengembangkan cinta kasih kepada lawan jenisnya.

Contohnya, seorang wanita yang bekerja sebagai pengawas di sebuah bank datang untuk berlatih meditasi vipassana selama 2 bulan. Setelah itu ia melanjutkan latihannya dengan meditasi metta.
Dikatakan dalam Visuddhimagga, anda dapat langsung menujukan cinta kasih kepada pembimbing atau seseorang yang memiliki kualitas setara dengan pembimbing tersebut. Selanjutnya metta dapat ditujukan kepada orang yang anda sayangi, orang yang netral dan akhirnya orang yang bermusuhan dengan anda.

Anda dapat mengembangkan cinta kasih sampai dicapai kondisi pikiran yang lunak dan mudah diarahkan. Dengan kondisi pikiran yang demikian, anda dapat mengembangkan cinta kasih tersebut kepada orang yang anda tuju dengan lebih mudah. Saya memberinya (wanita itu) petunjuk untuk mengembangkan cinta kasih kepada orang-orang tersebut satu demi satu.

Setelah menjalani 20 hari latihan, saya berkata padanya, “Sekarang kamu dapat mengarahkan cinta kasih kepada orang yang bermusuhan denganmu. Apakah kamu punya musuh?” Lalu ia ingat bahwa pimpinannya (seorang pria) selalu mencari-cari kesalahan yang ada pada dirinya. Sehingga timbul perasaan tidak suka dalam dirinya terhadap atasannya tersebut. Maka, saya memintanya untuk menujukan metta kepada si atasan itu. Iapun melakukannya dan mencapai keberhasilan.

Seminggu kemudian saya menyuruhnya merenungkan kesejahteraan dan kebahagiaan atasannya tersebut. Iapun melakukannya. Setelah itu ia kembali pulang ke rumahnya.
Suatu hari wanita ini datang ke tempat latihan dan berkata pada saya, “Bhante, atasan saya sebelumnya tidak pernah mengunjungi rumah saya sebelum saya mempraktekkan meditasi. Selama masa saya berlatih meditasi ia telah berkunjung ke rumah dan bertanya kepada saudara saya mengenai keadaan saya. Ia berkunjung dua kali. Ketika saya kembali ke kantor, ia menemui saya dengan wajah yang ramah. Ia tidak lagi mencari-cari kesalahan saya. Bahkan ia sekarang banyak membantu.”

Visuddhimagga mengatakan, lawan jenis tidak seharusnya dijadikan obyek meditasi. Namun bukan hanya wanita pada cerita di atas yang berhasil, tapi juga 3 – 4 pemeditasi lainnya juga berhasil menujukan cinta kasih mereka kepada seseorang yang berlainan jenis kelaminnya.

Saya berkesimpulan, bahwa apa yang diceritakan atau diajarkan dalam Visuddhimagga, yang berbeda dengan yang dialami oleh para murid saya, penggunaan obyek lawan jenis sebaiknya tidak dilakukan bila anda belum mampu atau trampil dalam mengembangkan cinta kasih tersebut. Namun, bila anda telah menguasai latihan/pengembangan metta ini, anda dapat menujukan cinta kasih anda kepada siapa saja.

Juga obyek orang yang sudah meninggal seharusnya tidak digunakan dalam pengembangan metta. Lebih jauh dikatakan (dalam Visuddhimagga), apabila pemeditasi mengembangkan cinta kasihnya pada obyek orang yang sudah meninggal ini, ia tidak akan mampu berkonsentrasi, apalagi memperkokoh konsentrasinya. Jadi, orang yang sudah meninggal sebaiknya tidak dijadikan obyek khusus dalam mengembangkan metta.

Orang yang sudah meninggal ini mungkin terlahir kembali di alam dewa, brahma atau manusia. Dalam hal ini anda dapat menjadikannya sebagai obyek umum dan mengarahkan cinta kasih tersebut kepadanya. Tetapi yang dibahas dalam Visuddhimagga adalah orang yang sudah meninggal dalam kategori khusus.

Diceritakan dalam Visuddhimagga tentang seorang bhikkhu muda yang mengarahkan cinta kasihnya kepada uphajaya, gurunya. Saat ia mengembangkan metta dan merenungkan kesejahteraan dan kebahagiaan gurunya yang tinggal berjauhan dengannya, ia tidak dapat mengonsentrasikan pikirannya.

Ia terus mencoba tapi tetap tidak membawa hasil. Akhirnya ia pergi menemui bhikkhu senior, seorang arahat (orang yang telah berhasil membebaskan dirinya dari lobha, dosa, moha) yang tinggal dekat dengannya dan menyampaikan permasalahan yang dihadapinya. Bhikkhu senior itu menyarankannya untuk mencari tahu mengenai keadaan gurunya. Itu saja.

Maka pergilah bhikkhu muda ini mengunjungi tempat gurunya. Dan mengetahui bahwa sang guru telah meninggal. Inilah sebabnya, menurut Visuddhimagga, bhikkhu muda itu tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Obyek yang dipilihnya, yaitu sang guru, telah meninggal dunia.
Kalau demikian, siapa yang seharusnya menjadi obyek pengembangan metta? MenurutVisuddhimagga, obyek utama meditasi cinta kasih adalah guru atau seseorang yang dihormati seperti halnya guru tersebut.

Anda dapat memilih seseorang dan menujukan metta kepadanya. Merenungkan kebahagiaan dan kesejahteraannya. “Semoga guru saya (atau orang baik ini) berbahagia, dipenuhi kedamaian, bebas dari kebencian maupun kesukaran. Semoga beliau mendapat kemajuan.”

Setelah itu anda dapat dengan mudah mengembangkan semangat cinta kasih dalam diri anda secara bertahap dan berlimpah. Lakukan hal itu berulang-ulang hingga pikiran dapat terkonsentrasi ke obyek meditasi dengan baik dan mencapai jhana I, II, III dan seterusnya.

Kitab komentar (Visuddhimagga) mengatakan bahwa orang pertama yang dapat dijadikan obyek dalam meditasi metta adalah guru atau seseorang seperti guru tersebut. Orang yang patut dihormati, dimuliakan oleh sila, samadhi dan panna (kebijaksanaan). Seseorang yang suci pikirannya.

Orang dengan karakteristik seperti ini dapat dijadikan obyek utama pada meditasi cinta kasih yang bersifat khusus. Ini dikarenakan anda memiliki rasa hormat terhadap orang yang berbudi luhur dan murah hati itu. Sehingga akan memudahkan anda untuk mengembangkan semangat cinta kasih dan mengarahkannya ke orang tersebut.

Meski demikian, kitab komentar (Visuddhimagga) juga mengatakan, yang paling utama dari semuanya itu adalah anda mengarahkan cinta kasih, metta kepada diri sendiri. Dan melakukan perenungan seperti ini, “Semoga saya terbebas dari segala penderitaan. Semoga saya berbahagia, diliputi kedamaian, bebas dari berbagai kesukaran dan kebencian.”

Dengan cara ini anda mengarahkan cinta kasih ke diri sendiri untuk beberapa saat, mungkin 1 – 2 menit. Setelah itu anda dapat mengarahkan Metta kepada guru atau orang yang anda hormati dan melakukan perenungan demikian, “Seperti halnya saya ingin terbebas dari segala penderitaan, demikian jugalah guru (atau orang yang baik ini) terbebas dari segala penderitaan pula. Seperti halnya saya yang ingin terbebas dari permusuhan, demikian juga dengan guru (atau orang baik ini) terbebas dari segala permusuhan. Seperti halnya yang lain ingin terbebas dari segala kesulitan, demikian juga guru (atau orang yang baik ini) terbebas dari segala kesukaran.” Dan seterusnya.
Setelah 1 – 2 menit, kata-kata “seperti halnya saya” tidak usah dipakai lagi. Anda dapat meneruskannya dengan “Semoga guru saya terbebas dari permusuhan, kebencian, kesukaran dan berbagai penderitaan.” Dan seterusnya. Mengarahkan cinta kasih anda kepada guru atau orang yang anda hormati itu.[3]






[1] http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/bhavana-pengertian-faedah-dan-cara-melaksanakan/
[2] Ibid
[3] http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/metta-bhavana/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar